Heat Ledakkan Bulls 134-91, Dominasi Total. Miami Heat menghadirkan salah satu penampilan paling telak musim ini dengan menggasak Chicago Bulls 134-91 di Kaseya Center. Selisih 43 poin ini menjadi kemenangan terbesar Heat di musim 2025-2026 dan salah satu margin terlebar dalam sejarah pertemuan kedua tim. Pada laga yang berlangsung awal Februari 2026, Heat tampil tanpa ampun sejak menit pertama, membuka keunggulan dua digit di kuarter awal dan terus menjauh hingga akhir pertandingan. Dominasi total ini menegaskan bahwa Miami sedang berada dalam ritme terbaik mereka, sementara Bulls mengalami malam yang benar-benar kelam di kedua sisi lapangan. REVIEW FILM
Serangan Heat yang Mengalir Tanpa Hambatan: Heat Ledakkan Bulls 134-91, Dominasi Total
Miami Heat mencetak 134 poin dengan efisiensi luar biasa: 56% dari lapangan, 48% dari tripoin, dan 28 assist tanpa turnover berlebih. Bam Adebayo menjadi motor utama dengan 24 poin, 12 rebound, 6 assist, dan 3 blok—penampilan all-around yang membuat Bulls kesulitan di paint. Tyler Herro menyumbang 22 poin dengan 5 tripoin, sementara Jaime Jaquez Jr. dan Nikola Jović masing-masing mencetak 18 poin dari bangku cadangan dengan tembakan luar yang akurat.
Heat sangat klinis di transisi, mencetak 26 poin fast-break, serta mendominasi second-chance points 22-8. Rotasi mereka berjalan mulus: setiap pemain yang masuk langsung memberikan dampak, baik lewat scoring, rebound, atau tekanan defensif. Pelatih Erik Spoelstra memanfaatkan kedalaman roster dengan baik, memberikan menit luas kepada pemain cadangan tanpa mengorbankan intensitas. Hasilnya, Heat memimpin hingga 35 poin di akhir kuarter ketiga dan tidak pernah membiarkan Bulls mendekat di babak kedua.
Pertahanan Heat yang Mencekik Bulls: Heat Ledakkan Bulls 134-91, Dominasi Total
Sisi pertahanan menjadi kunci utama dominasi malam itu. Heat membatasi Bulls hanya pada 91 poin—angka terendah yang pernah dicetak lawan mereka musim ini—dengan field goal percentage Chicago di bawah 39% dan hanya 9 tripoin dari 35 percobaan. Miami memaksa 19 turnover yang dikonversi menjadi 28 poin, serta memenangkan pertarungan rebound 52-38.
Bam Adebayo dan Kel’el Ware mengunci paint dengan sangat baik, sementara perimeter defender seperti Haywood Highsmith, Terry Rozier, dan Duncan Robinson mengganggu passing lane dan menutup ruang tembak. Bulls kesulitan menciptakan tembakan berkualitas tinggi sepanjang laga; bahkan pemain andalan seperti Zach LaVine dan Coby White terlihat frustrasi dan sering dipaksa mengambil shot terburu-buru.
Malam Kelam bagi Chicago Bulls
Chicago Bulls tampak tidak mampu memberikan perlawanan berarti. Zach LaVine menjadi top skor dengan 19 poin, tapi ia hanya mencetak 7 dari 18 tembakan dan terlihat kehilangan ritme. Coby White menyumbang 15 poin, sementara Nikola Vučević finis dengan 12 poin dan 9 rebound—angka yang jauh di bawah standar biasanya. Seluruh starting lineup Bulls kesulitan menemukan chemistry, dan bangku cadangan juga tidak mampu memberikan dorongan.
Bulls kalah telak di hampir semua kategori penting: paint points (72-38), fast-break points (26-8), dan bench points (58-32). Pelatih Billy Donovan pasca-pertandingan mengakui bahwa timnya tidak menunjukkan daya saing yang dibutuhkan, terutama dalam hal komunikasi defensif dan eksekusi di sisi ofensif. Kekalahan ini menjadi yang terbesar bagi Bulls musim ini dan menambah catatan buruk mereka di laga tandang.
Kesimpulan
Kemenangan 134-91 atas Chicago Bulls bukan sekadar hasil meyakinkan, melainkan bukti bahwa Miami Heat sedang berada di level yang sangat tinggi. Dengan serangan yang mengalir, pertahanan yang mencekik, dan kontribusi seimbang dari seluruh roster, Heat menunjukkan mengapa mereka tetap menjadi ancaman serius di Wilayah Timur meski sering dianggap underdog. Bagi Bulls, malam ini menjadi pengingat pahit bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin keluar dari zona bawah klasemen. Di tengah musim yang masih panjang, penampilan dominan seperti ini bisa menjadi titik balik bagi Heat—mengirim pesan bahwa ketika semuanya klik, mereka mampu menghancurkan siapa saja di liga. Kaseya Center malam itu bukan hanya menyaksikan kemenangan besar, tapi juga pernyataan bahwa Miami Heat siap bertarung hingga akhir musim.