
Kevin Durant Nolak Gagasan Menjadi Pilihan Kedua Thompson. NBA selalu punya cerita seru yang bikin penggemar heboh, dan kali ini sorotan tertuju pada Kevin Durant, bintang Houston Rockets, yang menolak keras anggapan bahwa dirinya harus menjadi pilihan kedua di belakang Amen Thompson. Komentar yang dilontarkan di media sosial oleh seseorang yang mengklaim sebagai saudara Thompson memicu respons tajam dari Durant, yang menegaskan posisinya sebagai pemain kunci tim. Kejadian ini bukan cuma soal rivalitas di lapangan, tapi juga menunjukkan dinamika ego dan peran dalam tim yang sedang naik daun seperti Rockets. Apa sebenarnya yang terjadi, dan bagaimana cerita ini berkembang? Yuk, kita bedah lebih dalam. BERITA LAINNYA
Siapa Thompson
Amen Thompson adalah bintang muda Houston Rockets yang mulai mencuri perhatian di NBA. Pemain berusia 22 tahun ini adalah pilihan keempat secara keseluruhan pada NBA Draft 2023. Dikenal karena atletisitas dan kemampuan serba bisanya, Thompson menunjukkan performa menjanjikan di musim keduanya, dengan rata-rata 12,8 poin, 6,6 rebound, dan 3,4 assist per pertandingan musim lalu. Gaya bermainnya yang eksplosif dan kemampuan bertahan membuatnya jadi andalan di lini depan Rockets. Meski belum mencapai level superstar, Thompson dipandang sebagai salah satu pilar masa depan tim, terutama dengan kehadiran pelatih Ime Udoka yang sukses membawa Rockets ke posisi kedua di Wilayah Barat musim lalu. Bersama pemain seperti Alperen Sengun dan Fred VanVleet, Thompson adalah bagian dari skuad muda yang ambisius.
Kenapa Bisa Kevin Durant Tidak Setuju Dengan Gagasan Thompson
Kevin Durant, yang baru bergabung dengan Houston Rockets melalui pertukaran fenomenal tujuh tim musim panas ini, langsung menunjukkan sikap tegas ketika mendengar gagasan bahwa ia harus jadi pilihan kedua di belakang Thompson. Komentar ini awalnya muncul dari unggahan media sosial yang menyebut Thompson sebagai opsi utama Rockets, dengan Durant sebagai pendukung. Durant, yang sudah 15 kali terpilih sebagai All-Star dan pernah meraih dua gelar juara NBA serta dua penghargaan MVP Finals, jelas tidak terima dengan anggapan tersebut. Dengan rata-rata 26,6 poin dan akurasi tembakan tiga poin 43% musim lalu, Durant tetap jadi salah satu pencetak poin terbaik di liga. Ia menegaskan bahwa pengalamannya dan kemampuan menyerangnya, terutama dalam situasi isolasi, masih menjadikannya tulang punggung tim. Bagi Durant, Rockets adalah tim yang sedang dibangun untuk juara, dan ia merasa perannya sebagai pemimpin ofensif tidak bisa digantikan oleh pemain muda seperti Thompson, meski potensinya besar. Respons Durant ini juga mencerminkan karakternya yang selalu ingin membuktikan diri di setiap tim yang ia bela.
Tanggapan Thompson Atas Kevin Durant
Amen Thompson, yang dikenal punya kepribadian rendah hati, memilih untuk tidak memperpanjang kontroversi ini. Dalam sebuah wawancara singkat setelah latihan tim, Thompson mengatakan bahwa ia menghormati Durant sebagai salah satu pemain terhebat di NBA. “KD adalah legenda. Saya di sini untuk belajar darinya dan membantu tim menang,” ujarnya. Thompson juga menegaskan bahwa ia tidak terlibat dalam komentar media sosial yang memicu perdebatan ini, bahkan menyatakan bahwa ia tidak mengenal orang yang mengaku sebagai saudaranya. Sikapnya yang dewasa menunjukkan fokus pada perkembangan diri dan kontribusi untuk Rockets, bukan pada drama di luar lapangan. Thompson tampaknya lebih tertarik untuk membuktikan kemampuannya melalui permainan, terutama dengan kesempatan bermain bersama Durant, yang bisa jadi mentor baginya di musim 2025-26.
Kesimpulan: Kevin Durant Nolak Gagasan Menjadi Pilihan Kedua Thompson
Kisah Kevin Durant menolak jadi pilihan kedua di belakang Amen Thompson adalah cerminan dari dinamika kompetitif di NBA, di mana pemain veteran dan bintang muda seringkali harus menemukan keseimbangan dalam tim. Durant, dengan segala pengalaman dan prestasinya, wajar menegaskan posisinya sebagai pemimpin ofensif Rockets. Di sisi lain, Thompson menunjukkan kematangan dengan tidak terpancing dan tetap fokus pada tujuan tim. Kehadiran Durant di Rockets, bersama talenta muda seperti Thompson, membuat tim ini jadi salah satu favorit di Wilayah Barat. Drama ini mungkin akan mereda seiring waktu, tapi satu hal pasti: ketika musim dimulai pada Oktober 2025, semua mata akan tertuju pada bagaimana keduanya bersinergi di lapangan untuk membawa Rockets meraih gelar. Ini bukan cuma soal siapa pilihan pertama atau kedua, tapi bagaimana mereka bisa saling melengkapi untuk mencapai tujuan besar.